Programmer Kerja Lembur Apakah Lebih Baik?
Di industri IT dan pengembangan software sudah menjadi anggapan umum bahwa seorang software programmer seringkali dituntut untuk siap bekerja lembur. Jam kerja ekstra, yang lebih panjang dibandingkan karyawan di bidang lain, seolah menjadi hal yang wajar dalam dunia teknologi. Tekanan datang dari berbagai arah: tenggat waktu proyek yang ketat, tuntutan klien, perubahan kebutuhan sistem yang mendadak, hingga keinginan pribadi untuk terus menyempurnakan hasil pekerjaan.Namun ada satu pertanyaan menarik yang patut direnungkan: apakah seorang software programmer yang bekerja lebih lama (lembur) otomatis akan menghasilkan pekerjaan yang lebih baik? Apakah waktu tambahan tersebut benar-benar berbanding lurus dengan kualitas kode dan keberhasilan proyek?
Beberapa penelitian mencoba menjawab pertanyaan ini. Salah satunya adalah pengamatan yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa Universitas Stanford
Fenomena ini bisa dijelaskan dengan konsep Diminishing Returns
Selain itu, dampak negatif kerja lembur tidak hanya berhenti pada kualitas kode. Kelelahan kronis bisa berujung pada burnout, menurunnya motivasi, bahkan meningkatnya tingkat keluar-masuk karyawan di perusahaan IT. Pada akhirnya, lembur yang dianggap solusi justru bisa membawa kerugian lebih besar, baik bagi programmer itu sendiri maupun perusahaan tempatnya bekerja.
Dengan pemahaman ini, diharapkan industri IT semakin menyadari bahwa lembur bukanlah tanda dedikasi, melainkan potensi masalah jangka panjang. Yang jauh lebih penting adalah menciptakan lingkungan kerja yang sehat, efisien, dan berkelanjutan.
Share To:
|
|


